Minggu, 29 Agustus 2010

Cerpen : Namaku Eddelweiss (Di Muat di Majalah Sabili 2003)

Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).

Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki “bunga abadi”. Sungguh julukan inilah yang menjadi ‘beban’ bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan ‘arti’ keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan ‘cinta abadi’, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah…. Apalah arti protesku? Tho’ siapa yang peduli dengan rintihanku?
* * *
Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan…. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.
Ya…. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan ‘istimewa’ oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi…. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan “Cinta Abadi” yang melekat manis di atas plastik kotak ini.
* * *

“Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,” komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
“Iya…. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!” ujar Anggrek sedih.
“Ah…. Kalian bisa aja!” ujarku pelan.
“Tapi…. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?” kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya… aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.
“Ah…. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!” ujarku.
“Kok bisa? Mengapa?” tanya Mawar keheranan.
“Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!” suara Anggrek ketus.
“Weiss…, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang” timbal Suplir.
“Maksudku…. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi…. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal…..”
“Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!” suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska .
“Iya… nih Weis, maksud kamu itu apa?” tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
“Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang ….dan seharusnya manusia yang melihat ‘keabadianku’ sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi” suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.

“Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah… seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake’ wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?” ujar Mawar prihatin.
“Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?” tanyaku heran pada Mawar.
“Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana” jelas Mawar.
“Ah sudahlah… sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh… wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?” sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.
“Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?” suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.
* * *

“Ari…… ada yang ingin ku katakan” terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
“Ada apa?” tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
“Aku…aku …. Telat tiga minggu!Aku…ha…mil, Ari!”
“Hah? Kamu…hamil?” tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
“Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!” ujar Rieska gusar.
“Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!”
“Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!” teriak Rieska bercampur tangis.
“Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!” cibir Ari.
“Ari… teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!”
“Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!”
“Tidak! Aku nggak mau!”
“Harus!” paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.
* * *

“Ari jelek! Lelaki brengsek!” teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. “Ada apa yah?” batinku bertanya penasaran.
“Hu….hu…., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!” teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
“Eh… kawan-kawan, Rieska kenapa yah?” tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
“Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin… Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya” tebak Anggrek.
“Ari…. Ka..mu…kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu …. Hu….hu… Cinta? Ah… Ari … ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
“Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?” tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
“Ja……ngan……!!” teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.
* * *

Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
“Ya… Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya… Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya… Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua” lirih suara Rahman menyejukan hatiku.
Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang ‘berhasil’ mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.


(Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424)

FLP Cabang Lamtim Expo Sebar Virus Cinta Menulis

Paling asyik kena terkena virus yang satu ini. Apalagi kalau bukan virus menulis yang dilakukan penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) di Lampung Timur (Lamtim). Bekerjasama dengan Penerbit Indiva dan Majalah Gizone, FLP Cabang Lamtim menggelar beragam acara seputar dunia tulis-menulis. Di antaranya pelatihan menulis dan launching novel karya Afifah Afra Amatullah. Acara ini yang digelar 14 Februari 2010 di Balai Desa Braja Sakti, Way Jepara ini juga disertai lomba menulis cerpen dan puisi.

Sri Rahayu, Ketua FLP Cabang Lamtim, mengungkapan acara yang bertema Pesona Cinta di Bumi Ruwa Jurai ini juga menghadirkan penulis dari Lampung seperti Naqiyyah Syam, Anfika Noer, Suwanda dan lainnya. “Pelatihan menulis disampaikan oleh tim Majalah Gizone, Asri Istiqomah dan launching novel De Liefde langsung oleh penulisnya Afifah Afra,” ujar Sri Rahayu.

FLP Cabang Lamtim Expo diikuti banyak pelajar dan anak muda lainnya di Kota Metro. Mereka berharap, bersama FLP akan banyak penulis yang giat mengisi kolom sastra di media lokal Lampung dan nasional. Dengan demikian regenerasi penulis di Lampung bisa terjaga eksistensinya. Selain pelatihan, panitia juga menyampaikan pengumuman lomba menulis cerpen dan puisi religi yang diikuti 85 peserta dari berbagai daerah di Lampung. Pemenang mendapatkan piala, uang pembinaan, sertifikat dan hadiah sponsor.

“Sangat menyenangkan karena respon yang baik dari generasi muda Lampung. Kita berharap kegiatan ini bisa menjadi kontribusi bagaimana remaja bisa berkembang dengan minat menulisnya, terutama anggota FLP sendiri,” tambahnya.

Untuk menyemangati peserta acara, kegiatan ini juga mengadakan bazaar buku dan juga open house karya-karya fiksi dan nonfiksi penulis FLP asal Lampung.

Sumber: http://www.annida-online.com/berita-komunitas/flp-cabang-lamtim-expo-sebar-virus-cinta-menulis.html

Kamis, 26 Agustus 2010

Pengembara Cinta


Dimuat di Lampung post 03/09/2008


SALAT asar berjemaah baru saja usai. Senja mulai menjelang. Burung-burung beterbangan mengepakkan sayapnya, lalu dengan riang hingap di pohon akasia di dekat pintu gerbang. Langkah kuayun keluar masjid. Menuruni anak tangga demi anak tangga. Betapa terasa senja hari ini sangat indah, ada pelangi di ufuk barat setelah seharian Kota Medan diguyur hujan. Sambil menjinjing sandal, kuarahkan pandangan ke arah timur dekat pintu gerbang masuk masjid.

Seorang anak kecil berlari-lari gembira, tak jauh dari sana, seorang lelaki tegap dan seorang perempuan duduk di bawah pohon akasia yang rindang beralas koran, mungkin orang tua anak kecil tadi. Duuuh… Alangkah indahnya membentuk keluarga yang harmonis. Lamunanku jauh ke kampung halaman, menyeberangi pulau, Purwokerto. Kepada bapakku yang mulai tua tanpa Ibu yang melayani keperluan sehari-hari beliau, sejak dua tahun yang lalu. Ibu telah menghadap-Nya. Kepada kedua adik kembarku yang masih membutuhkan banyak biaya kuliah mereka di Yogyakarta. Ahh..

“Duuuh.. Gusti Allah, betapa, indahnya menikmati kesejukan di sore ini, apalagi bila telah memiliki keluarga seperti mereka yah?” Gumamku sendiri.

“Mau disemir, Pak?” tanya seorang bocah penunggu sepatu.

“Tidak,” aku tersentak kaget dan menggeleng lemah.

Aku berlalu darinya. Beginilah bila pengangguran semakin banyak. Di depan masjid pun menjadi sasaran empuk mencari pekerjaan. Menjaga sandal dan sepatu, menyemir menjadi alternatif demi sesuap nasi. Kembali kuayun langkahku menuju pintu keluar Masjid Al-Mashum, Masjid Raya Kota Medan.

***

“Gimana, Mas Roso? Jadi menikahnya? Kapan?” Firman sahabat karibku bertanya. Kantin di ujung belakang kantor ini cukup ramai bila menjelang zuhur tiba. Aku dan Firman sedang menikmati makan siang.

“Sepertinya belum sekarang. Ditunda.”

“Kenapa?”

“Nanti deh aku ceritakan, jangan di sini, tidak enak kedengaran orang,” ujarku sambil berbisik.

“Trus bagaimana dengan Ira? Kamu kan sudah mengatakan pada keluarganya akan segera menikahinya?”

“Entahlah,” aku menghela napas dengan berat. “Ahh Ira, maafkan aku yang telah menyakiti hatimu,” desahku dalam hati.

Aku jadi teringat pada Ira. Gadis yang cerdas, manis, ceria dan ramah. Aku telah memilihnya untuk menjadi pendampingku kelak. Tekadku bulat. Tepat setahun aku mengenalnya. Kami bertemu dalam sebuah acara pertemuan seluruh PNS Pemda se-Sumatera Utara. Singkat cerita, aku memberanikan diri untuk mengutarakan niatku padanya, juga pada keluarganya, sebelum aku pulang ke Purwokerto, tempat keluarga besarku bermukim. Tak kuduga, tak kusangka. Cerita berganti menjadi prahara. Keluargaku kini mencegah. Padahal sebelumnya via telepon keluargaku setuju saja bila aku melamar Ira. Apa pun gadis pilihanku kelak.

Dunia seakan sempit. Dadaku terasa sesak. Keluarga besarku berbalik 90 derajat dari restu semula. Aku dihadapkan pada dua pilihan pelik. Aku terkapar dalam masalah keluarga. Klasik memang. Tapi penting. Tak jauh dari ekonomi dan budaya. Jawa-Sumatera. Ah, kenapa harus ada perbedaan? Kenapa harus ada benturan? Inikah balasan dari tak matangnya aku menyosialisasikan tentang pernikahan dini? Oh tidak, aku sudah 28 tahun! Bukan anak ABG, tapi…

Kepalaku terasa berat. “Wahai Zat Yang Maha Mengetahui, betapa hamba menjadi serbasalah,” ratapku pada-Nya. Sejak kepulanganku dari Purwokerta. Acara pernikahan Mbak Sari. Aku semakin pusing. Bagaimana cara mengatakan pada Ira dan keluarganya. Haruskah aku jujur pada mereka? Pernikahan batal? Ohh Tuhan. Padahal, harapan itu sudah kutumpahkan pada Ira dan keluarganya, pada keluargaku, pada harapanku. Terasa beban ini mengimpit, diburu keinginan menggenapkan setengah din.

“Hei! Roso, Kamu melamun ya?” suara Firman menyadarkanku. Bahuku diguncangnya berkali-kali.

“Kalo masih capek, nggak usah cerita dulu deh. Makan dulu, melamun aja.” aku tersenyum malu pada Firman.

***

“So, kamu sakit? Katanya mau curhat? Ayo cerita,” suara Firman.

“Aku malu mengatakannya padamu, pada Ira dan keluarganya. Apa kalian bisa maklum dengan alasanku nanti?” ceritaku pada Firman di kosannya. Malam minggu begini, biasanya kami habiskan menonton acara di Metro TV atau berdiskusi hingga menjelang malam.

“Masalahnya apa? Kamu kan belum cerita padaku sejak kepulanganmu dari Purwokerto. Apa keluargamu tidak setuju?” tanya Firman sambil mendekatiku yang duduk di atas kasurnya. Kamar berukuran 3 x 3 meter ini terlihat sangat rapi, dengan sigap Ia menekan remote control mengecilkan volume TV ukuran 14 inc tepat berada di depanku.

“Pada awalnya, keluargaku setuju saja aku menikahi Ira, dari cerita-ceritaku, telah menyakinkan mereka, tapi sejak kedatangan bulek-bulekku dari Jakarta, pandangan mereka terhadap rencana pernikahanku mulai berbeda, apalagi dengan permasalahan dalam keluargaku.”

“Terus bagaimana?”

“Aku sendiri bingung. Keluargaku meminta aku menunda pernikahanku dengan Ira, minimal dua tahun lagi.”

“Astaga naga, lama sekali? Apa tidak ada solusi lain? Lama-lama begitu bisa disambar orang tuh,” goda Firman. Aku tersenyum kecut, tidak menanggapi guyonannya.

“Eehh maaf, tapi apa emang itu alasannya? Boleh aku tahu ada apa sebenarnya? Itu pun kalo kamu nggak keberatan.”

Pada Firman seorang akhirnya aku bercerita. Keluargaku sederhana. Ketika mendiang ibu masih ada di tengah kami, berbeda sekali. Ibu yang penuh semangat, ceria dan sangat disegani dari pihak keluarga. Perekonomian keluarga relatif stabil walau ada riak di sana-sini. Tapi, kami semua bisa mengenyam bangku kuliah. Tragedi bermula ketika ibu akhirnya divonis menderita stroke. Beliau menderita sekitar 5 tahun. Kami sekeluarga berusaha mengobati ibu ke mana-mana, tapi Tuhan berkehendak lain. Semua upaya telah dicoba. Dari dokter, pijat refleksi, ramuan tradisional hingga mandi rempah-rempah. Ah, bayangan ibu seakan menjelma menjadi nyata. Saat itu, apa pun kami lakukan untuk kesembuhan ibu. Dulu kami memiliki 3 toko kelontong terbesar di kotaku. Perlahan akhirnya dijual hingga tinggal satu toko kecil untuk menyambung hidup.

Tahun berganti. Mbak Sari sudah menjadi PNS, aku sudah diterima kerja di Medan, kedua adik kembarku sudah kuliah. Selama ini biaya kuliah adikku berasal dari Mbak Sari dan beberapa sokongan keluarga besar ibu. Apalah besarnya dari penghasilan toko kecil di sudut pasar yang dikelola bapak yang sudah mulai sakit-sakitan untuk biaya kuliah mereka juga perekonomian di rumah sehari-hari. Tapi aku bersyukur, keluargaku tak terlilit utang.

Niatku ingin menjaga diri, maka kuputuskan untuk segera menikah. Ibadah kan? Tapi inilah skenario-Nya. Aku terbentur dalam sebuah pilihan. Oh bagaimana? Mbak Sari baru saja menikah, otomatis biaya kuliah kedua adik kembarku ada di pundakku. Nanti bila aku menikah, tentu kebutuhan biaya hidup akan meningkat, bagaimana dengan biaya kuliah adikku?

“Fir, aku bingung! Nggak mungkin aku melepaskan cita-cita adik-adikku kan?”

“Apa sudah kamu diskusikan dengan Mbak Sari? Berbagi untuk membiayai mereka berdua misalnya?”

“Belum, aku tidak berani membebani Mbak Sari lagi.”

“Kamu sudah memberitahu Ira?”

“Sudah”

“Bagaimana tanggapannya?” Aku hanya diam tak kuat menceritakan pada Firman bagaimana ekpresi Ira yang kecewa atas keputusanku.

“Aku prihatin dengan masalahmu. Sungguh. Tapi, percayalah kita menikah pasti dengan jodoh kita. Bila pun kamu dan Ira berjodoh, entah sekarang atau bahkan 10 tahun yang akan datang pasti akan bertemu. Tapi tentunya, pernikahan itu akan lebih baik bila disegerakan, asal jangan terburu-buru. Bukankah bernilai ibadah? Menggenapkan setengah din lo, tapi dipikir secara jernih, emang sih kondisi keluargamu perlu juga dipertimbangkan, tapi apa tidak ada jalan keluar yang lebih baik? Atau, mau mengambil jalan tengah?”

“Apa?”

“Kawin lari!” jawab Firman enteng. Aku melempar sebuah bantal tepat pada wajahnya. “Uuh, diajak serius malah bercanda!”

Ya, kuingat semua ini baru saja ikhtiar. Mencari istri ternyata tidak mudah yah? Apalagi untuk menikah secara cepat? Sepertinya aku harus banyak belajar dari pengalaman ini. Ternyata aku masih mentah bicara soal pernikahan.

***

Universitas Islam Indonesia (UII) hari ini cukup ramai, dipadati oleh beberapa mobil, motor, maupun angkutan umum. Prosesi wisuda baru saja berakhir. Kebahagiaan terpancar dari balik wajah manis berkerudung hijau lumut. Yanti. Ia berjalan dengan anggun berselimut kebaya, dan toga di kepalanya.

“Mas, fotokan Yanti sama Bapak di depan sana yah!” ujar Yanti menunjukkan papan nama UII di arah barat, kira-kira 500 meter dari kami berdiri.

“Ayoo.. berdiri yang rapi yah! Sip! Satu, dua, tiga!”

Klik, Aku memotret mereka, ada juga Mbak Sari bersama suami dan putranya, Bapak, Yanto dan Bulek Darmi beserta keluarganya. Aku tersenyum bahagia melihat kebahagiaan mereka.

Aku datang sendiri. Tanpa istri dan anak di sampingku. Menjelang usia 32 tahun aku memang masih lajang. Belum menikah. Ya keputusan telah kupilih. Aku melepaskan proses pernikahanku dengan Ira beberapa tahun yang lalu karena pertimbangan masalah keluarga. Apalagi soal dana persiapan pernikahan, biaya kuliah adik-adikku dan lokasi yang jauh. Tak mungkin memaksakan kondisi keluargaku untuk segera menikahkan aku dengan Ira.

Apa kabar Ira sekarang? Kurasa dia telah berumah tangga sejak pengunduran diriku. Aku tak berani mencari tahu lagi tentang keberadaannya. Biarlah aku yang mengalah. Tak apalah, demi kebahagiaan keluargaku dan keberhasilan kedua adik kembarku. Dan impianku akan segera kugenapkan. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Penasaran siapa calonnya? Sttt masih rahasia.

Medan-Bengkulu, 20 Agustus 2004

(Ide cerita dari SMS tanggl 28 Desember 2003)

Repost : Alamat Email Media Massa Cetak Indonesia

Alamat Email Media Massa Cetak Indonesia

Menulis di Media Cetak Indonesia (1)

Bagi siapa saja yg berminat mengirim tulisan ke media cetak (koran/majalah), maka berikut sedikit tips dari saya:

1. Panjang tulisan antara 700 sampai 1000 kata *. cara melihat jumlah kata: MS WORD –> tools–> wordcount —> words

2. Kirim ke media via email dalam bentuk MS WORDS via attachment.

Alamat email2 media cetak sebagai berikut:

Media Nasional:

1. Republika:
Redaksi : redaksi@republika.co.id
Sekretariat Redaksi : sekretariat@republika.co.id
Webmaster ROL : webmaster@republika.co.id

2. Kompas:
(1) opini@kompas.com
(2) opini@kompas.co.id
(3)kompas@kompas.com

3. Media Indonesia
redaksi@mediaindonesia.co.id

4. Suara Pembaruan
koransp@suarapembaruan.com
opinisp@suarapembaruan.com

5. Sinar Harapan
(1)redaksi@sinarharapan.co.id
(2)info@sinarharapan.co.id 6. Harian Pelita
hupelita@indo.net.id7. Jawa Pos
(1) editor@jawapos.com
(2) editor@jawapos.co.id
8. Suara Karya
redaksi@suarakarya-online.com

9. Koran Tempo
ndewanto@mail.tempo.co.id

10. Majalah Tempo
hidayat@mail.tempo.co.id

Media Daerah Sumatera

1. Waspada (Medan)
(1) redaksi@waspada.co.id
(2) waspada@waspada.co.id

2. SIB – Suara Indonesia Baru (Medan)
redaksi@hariansib.com

3. Batam Pos
redaksi@harianbatampos.com

4. Serambi Indonesia (Aceh)
(1) redaksi@serambinews.com
(2) serambi_indonesia@yahoo.com

5. Sriwijaya Post (Palembang)
(1) sripo@persda.co.id
(2) sripo@mdp.net.id

Media Daerah Jawa

1. Pikiran Rakyat (Jawa Barat)

beritapr@yahoo.com
berita@pikiran-rakyat.com
redaksi@pikiran-rakyat.com
info@pikiran-rakyat.com

2. Suara Merdeka (Jawa Tengah)
redaksi@suaramer.famili.com

3. Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta)
redaksi@kr.co.id

4. Koran Bernas (Yogyakarta)
koranbernas@yahoo.com

5. Harian Surya (Jawa Timur)
surya1@padinet.com

6. Harian Duta Masyarakat (Jawa Timur)
dumas@sby.centrin.net.id

7. Surabaya Post (Jawa Timur)
redaksi@surabayapost.info
admin@surabayapost.info

Media Daerah Bali

1. Bali Post
balipost@indo.net.id

Media Daerah Kalimantan

1. Banjarmasin Post
banjarmasin_post@persda.co.id
bpostmania@telkom.net

2. Pontianak Pos
redaksi@pontianakpos.co.id

Media Daerah Sulawesi

1.Harian Fajar (Makassar)
fajar@fajar.co.id

Jadi, setelah Anda selesai menulis di MS WORD sebanyak 700 – 1000 kata, maka kirimkan ke media yg dituju melalui email mereka. Sekali lagi, artikel dikirim via attachment. Dan jangan lupa tulis di subject email
sbb: “Artikel Opini: ” [judul tulisan anda di sini...]

Langkah pertama, cobalah menulis ke koran, bukan majalah. Karena kolom di majalah biasanya pesanan dari redaksi; biasanya diisi penulis yg sudah beken seperti Rizqon Khamami.

Catatan:

1. Email redaksi sejumlah harian/koran Indonesia di atas adalah email media cetak. Sedangkan email media online seperti detik.com, dll tidak termasuk di sini.

2. Perlu diketahui bahwa tulisan kita yang dimuat di media cetak, akan otomatis dimuat di website mereka masing-masing. Artinya, kalau tulisan kita tampil di website koran bersangkutan berarti dimuat di media cetaknya. Memang koran seperti Waspada (Medan) dan Riau Pos (Riau) pernah memiliki dua edisi online dan offline (cetak), tapi sekarang sudah tidak lagi. Ini untuk menjawab pertanyaan Rahmatsyah Rangkuti yang agak bingung soal ini.

3. Jangan pernah mengirim satu tulisan pada dua koran nasional atau dua koran yang satu daerah dalam waktu bersamaan. Karena kalau sama-sama dimuat di kedua koran tsb. kita akan mendapat sangsi berupa tulisan kita tidak akan lagi dimuat di keduanya. Akan tetapi, kalau dikirim pada dua koran yang lain segmennya, seperti ke koran nasional dan koran daerah itu tidak apa-apa walaupun seandainya sama-sama dimuat.

4. Kalau Anda memiliki alamat email media cetak yang belum saya sebut atau alamat email dari saya salah, silahkan tulis di kotak komentar di bawah untuk melengkapi dan mengoreksi.

Sumber: www.fatihsyuhud.com

Menjadi Cahaya dari Gemar Membaca

Peran orang tua sangat menentukan tumbuh kembang anak. Ibarat sebuah kertas. Anak adalah kertas putih yang dapat dibentuk apa saja atau ditulis apa saja oleh kedua orang tuanya. Jika orang tuannya membentuk kertas itu sebagai kapal, maka kertas akan menjadi sebuah kapal. Jika orang tua menulis kertas putih itu menjadi sebuah gambar pohon, maka jadilah kertas itu menjadi gambar pohon. Begitulah anak kita. Ingin dibawa kemana? Itulah perlunya ilmu agar tak menjadi orang tua yang “gagap” tujuan.

Saya jadi teringat ketika pertama kali tulisan saya dimuat di sebuah majalah. Kakak-kakak saya langsung bersuka cita. Mereka bilang, saya meneruskan cita-cita ayah. Pun ketika saya menjadi wartawan kampus dan menulis dibeberapa buku. Mereka tak heran, karena saya kecil sangat “dipaksa” ayah dengan berbagai bacaan.

Kenapa dipaksa? Karena ketika masih kecil, sudah kelas 4 SD, saya belum bisa lancar membaca! Saya lebih memilih menari menjadi kegemaran saya. Tapi ayah memiliki cara yang unik membuat saya tertarik dengan membaca. Setiap hari saya duduk dipangkuan ayah yang mengenakan sarung. Biasanya ayah akan membaca koran sambil mengayunkan saya dalam pangkuannya (dalam sarung).

Setiap hari pula ayah membeli beberapa jenis koran nasional dan membacanya. Maka secara tak langsung saya mulai tertarik untuk membaca. Tak lama saya sudah bisa membaca. Maka, ayah langsung rutin membelikan saya majalah anak-anak sepeti Bobo, Ananda, Donal Bebek, dan lainnya.

Kelas 6 saya sudah jago menulis! Saya mulai berani mengirimkan surat pada beberapa sahabat pena! Ya, saya kecanduan menulis apa saja yang saya rasakan. Maka tak heran di kelas 6, saya sudah punya sahabat pena yang cukup banyak. Kegemaran saya membaca dan menulis terus terasah, hingga saya akhirnya menjadi wartawan kampus dan berhasil menerbitkan buku antologi bersama teman-teman FLP. Sungguh terharu, saat karya pertama saya diterbitkan. Saya teringat ayah yang telah tiada sejak saya kelas 6 SD.

Kini, mengajarkan Faris anak saya yang berusia 4 tahun pun saya kenalkan teknik pendekatan seperti ayah. Mengenalkan kegemaran membaca dan menulis sejak dini. Tak ingin seperti saya yang baru kelas 4 SD lancar membaca, saya mengenalkan Faris membaca sejak dini. Sejak usia 3 bulan, Faris sudah mau mendengarkan saya membacakan buku cerita bergambar.

Sejak usia 2,5 tahun saya mengenalkan CD anak Mimi Kelinci berjudul Berpetualang ke Dunia Huruf 1 dan 2. Lewat lagu dan cerita bergambar, Faris dengan mudah menghapal abjad. Selain itu, saya membekali Faris dengan buku dan pensil. Sejak usia 2 tahun, Faris sudah pas memegang pencilonya dan siap menulis. Kini Faris sangat antusias melihat buku dan hasil gambarnya pun sudah bagus. Bahkan saat ini di rumah saya membuka Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan Karya) FLP Cabang Lampung Timur.

Setiap hari anak-anak kecil bermain dan membaca buku cerita anak. Saya berharap tak ada lagi anak-anak kecil di lingkungan saya telat membaca atau kesulitan mencari bacaan anak yang sehat. Maka, kami beusaha berbagi bagi lingkungan sekitar. Semoga anak-anak di lingkungan sekitar lebih percaya diri. Karena yakinlah, anak yang gemar membaca dan menulis akan lebih percaya diri. Karena ia lebih banyak tahu informasi dan kosa kata dari buku yang dibacanya, apalagi bila kita damping dengan Tanya jawab dan menceritakan kembali. Semoga anak-anak itu akan menjadi cahaya bagi orang tuanya kelak. Bukankah doa anak sholeh akan menjadi harapan orang tua yang telah tiada? Semoga ayahku disana tahu kalau aku berterimakasih atas kegigihannya mengajarkan saya membaca. Amin.

Naskah ini menang di sayembara :
http://shakuki.com/menjadi-cahaya-dari-gemar-membaca,90.html

Kenapa Naqiyyah Syam?

Ketika berkenalan di face book, banyak teman-teman sekolah saya dulu heran. Siapa sih Naqiyyah Syam? Asing banget deh! Tapi kok fotonya kenal? He.he...Wuahhh setelah liat profil saya, baru deh banyak yang lansung ber o-o ternyata...!:)

Nama penaku Naqiyyah Syam

Awal saya menggunakan nama pena ini ketika aktif di UKM-Rohis UNIB. Saya bersama beberapa teman sedang merintis Buletin Dakwah. Saya langsung tertarik dengan nama pena Naqiyyah Fii Sabilillah. Cerpen pertama saya dimuat di Sabili juga menggunakan nama ini. Juga beberapa tulisan di Buletin kampus dulu. Bahkan ketika buku antologi cerpen Ketika Nyamuk Bicara (Zikrul Hakim, 2004) bersama teman-teman FLP Bengkulu, FLP Lampung dan FLP Sumatera Selatan, saya masih menggunakan nama pena ini. Tapi khusus di kampus, ketika menjadi wartawan Warta Unib, saya menggunakan nama asli atau inisial Yyk saja.

Adalah Teh Pipiet Senja yang menyarankan saya untuk menggantikan nama pena ini. “Terlalu berat, dek!”begitu saran beliau.Ya, ketika itu kami sedang mengumpulkan naskah cerpen untuk dana Gempa dan Tsunami Aceh. Waktu itu saya sempat bingung. Kadung cinta dengan nama Naqiyyah!

Walau menurut penulis dari Bengkulu, Pak Herman Suryadi (Penasehat FLP Wilayah Bengkulu ketika itu), saya sudah pas dengan nama Yayuk. Sebagai Ketua FLP Wilayah Bengkulu, saya sempat aktif memegang kolom Sastra dan Budaya di koran Rakyat Bengkulu, sehingga beberapa penulis asli Bengkulu sudah mengenal nama asli saya dari pada nama pena saya. Maklum tulisan saya banyak di Majalah atau buku Islami saja bukan remaja.

Tapi tetap saya sudah jatuh cinta dengan nama Naqiyyah, he..he..Maka, saya diskusi dengan Paman saya Meirin Sanoel, yang saat itu menemani saya di rumah (ketika ayah dan ibu meninggal, beliau menemani saya di rumah juga sepupu saya Dewi). Setelah bingung sejenak, saya menetapkan nama Syam di belakang Naqiyyah.

Syam diambil dari nama ayah saya, Syamsir Sanoel dan Syam juga dapat diartikan sebagai matahari yang tentu dapat menyinari bumi, he..he... dari kata Syams 6_^ (nyantol dikit). Jadi nama pena saya Naqiyyah Syam, arti bebasnya jernih (niat yang tulus, Insya Allah) berusaha menyinari (mencerahkan) lewat tulisan. Maaf yang ahli bahasa arab, bantu artikan dong :)

Akhirnya, di buku Jendela Cinta, saya menggunakan nama Naqiyyah Syam dan seterusnya juga di buku Uda Ganteng No 13 (GIP, 2006) dan Persembahan Cinta(Jendela, 2008). So, doakan ya saya terus istiqomah menulis berjuang dengan dakwah bil qolam ini! Punya buku sendiri dan terus menulis hingga menjadi pemberat amalan saya. Amin. Semangat!


Nb: suamiku sempat ge er pake nama Syam. Katanya, Syam juga artinya Surya. La nama suami, Ahmad Suryanto:-) trus pas bongkar2 arsip, ada puisi2 suami pake nama Ahmad Syam. Wahh ga nyangka jadi sama:-)

3 Idiots




Akhirnya tadi malam (21 Maret 2010) bisa juga nonton 3 Idiots yang direkomendasi teman-teman di fesbuk. Setelah ketemu DVD bajakan he..he..Nonton sendiri pas Faris udah bobok euy! Jadi nulis ganti nonton aja deh malam minggu tadi

Awalnya,kukira film ini tentang anak idiot, nakal, kekurangan atau keterbelakangan mental. Tapi ternyata jauuuuh! Mereka anak yang super kreatif en sungguh film yang menhibur sekaligus ada sisi pendidikannya.

Kisah bermula persahabatan 3 mahasiswa Rancho, Raju dan Farhan. Mereka mahasiswa teknik yang harus tinggal di Asrama. Sebenarnya aku gak terlalu paham percakapan mereka, di DVD menggunakan bahasa India,walau ada teksnya sih, tapi banyak hilangnya he..he.. so, aku menebak jalan ceritanya aja dari alur yang ada.yang jelas terlihat adengan di Asrama yang menjadikan mahasiswanya kayak robot, ampe ada yang stres trus bunuh diri.ihh serem banget! Padahal penemuannya bagus lo!

Nah, ketiga sahabat ini anak yang bandel, suka buat gara-gara en selalu berantem dengan sang rektor yang mereka beri julukan Virus. Tapi akhirnya mereka bersahabat,apalagi ketika si Rancho suka ama anak si rektor bernama Pia.

Di film ini gak cuma ada nyanyi, tangis tapi juga ada tawa, bahkan tawa sambil nangis.kok bisa? Duuh adengan yang tak dikira en belum pernah deh di film India lainnya. Aku suka banget! Pas si ketiganya mengubah teks pidato yang akhirnya berantakan he..he.., trus pas Kakaknya Pia (anak pak Virus juga) mau melahirkan, sedangkan Asrama terjebak banjir, mati lampu dan tak ada perempuan. Alhasil, ketiganya membantu persalinan dengan menciptakan alat vakum bayi trus dipandu melahirkan via web cam dari jarak jauh oleh Pia (mahasiswa kedokteran), huuuu keren abis! Apalagi alat di Rancho yang bandel harus jadi bisan dadakan ehh pas lahir bayinya malah gak nangis! Merekalangsung nangis! Huuu aku juga ikut nangis!

Serunya lagi pas mereka bertiga nyamar mau makan gratis saat pertunangan kaknya Pia. Huah dasar anak Asrama, ngambil makanannya banyaaak banget!

Sedihnya setelah 10 tahun mereka berpisah, ternyata diluar dugaan, si Rancho si jagoaan, bandel tapi pintar itu ternyata seorang joki untuk mendapatkan ijazah seorang bernama Ranchoddas. Nah, kenapa ya mau jadi joki?


Tapi memang ada minusnya film. Gak bagus ditoton bareng anak-anak. Apalagi berdua ama Faris, he..he...Ada adengan mabuk-mabukan, ciuman (wuah belumnikah uda adengan begini?), trus ada adengan nunjukkin celana dalem cowok pula, ihhh....geli en gak sopan!

Tapi lepas dari minus itu, aku suka fim ini. Makasih ya yang suda merekomendasikan nonton film ini.

Trus...buat yang udah nonton, adengan apa yang berkesan banget ama kalian? Cerita ya!

Jilbab Coklat Susu (Cerpen)

Meli dari tadi manyun aja, sudah hampir satu jam nemanin sohibnya, Tia, muter-muter Suprapto, itu lhoo….kawasan pertokoan terbesar di Kota Bengkulu, yang banyak lampu hiasnya berwarna-warni. Dari lampu berbentuk kincir angin, kupu-kupu, air mancur, sampai mirip bunga Rafflesia pun ada. Konon lampu hias tersebut menghabiskan uang 3 Milyar, wahhh….dana rakyat tuh!
Eh…mau mau tahu kan kenapa Meli kesana? Biasa... kebiasaan lama kalo tanggal muda seperti sekarang, Meli suka belanja-belanja, keliling emperan sepanjang pertokoaan Suprapto dari pangkal sampai ujung. Bila menemukan sesuatu yang menarik, kadang tanpa berpikir penting atau tidak memiliki benda tersebut, Tia pasti membelinya. Maklum ortunya cukup berada.

“Tia, daku haus nih, kita istirahat dulu dong” pinta Meli dengan wajah memelas. Bayangkan saja sudah hampir satu jam muter-muter, haus……, lapar…..bercampur menjadi satu. Keringatnya membasahi kaos biru seragam olah raga yang dipakainya.
“Wah... tanggung nih, daku lagi asyik pilih gantungan kunci nih! Dikau duluan aja yah beli es tebu, sekalian belikan daku juga, o.k?” ujar Tia sambil mengeluarkan uang lima ribu kepada Meli. Setengah terpaksa, Meli menyambut dengan senyuman masam. “Duuu teganya, iya deh aku yang beliin,” sahutnya pelan.

* * *
Meli dan Tia sahabat sejak kecil. Satu sekolah dari SD sampai sekarang di SMUN 5 Bengkulu. Kemana-mana selalu bersama, se-iya, se-kata, ceee..... Rumah mereka berdekatan. Amat sangat dekat, dindingnya berdampingan, karena kawasan rumah “elite” keduanya adalah di Perumnas, alias perumahan belum lunas, he..he.. tepatnya di Perumnas Lingkar Timur dekat pasar Panorama Bengkulu.
Tia seorang gadis manis berlesung pipit yang hobi berbelanja pas tanggal muda, baru gajian euy! Tia juga hobi mengkoleksi baju, gantungan kunci, kaos kaki warna-warni, boneka dan lain-lain. Maklum anak bungsu, kakaknya sudah banyak yang bekerja mapan sehingga jatah bulanannya bertambah, so... seperti yang dilakukannya siang ini bersama Meli sahabat setianya sejak kecil, teman seperjuangan, tetanggaku sahabatku, itu motto persahabatan mereka.

Meli seorang gadis sederhana, dia dilahirkan menjadi anak perempuan satu-satunya, anak ketiga dari lima bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki dan adiknya juga laki-laki, hingga Meli tumbuh menjadi cewek yang banyak mengalah. Terkadang Meli merasa kesepian, tak ada teman bermain boneka, atau main masak-masakan. Nah.….. untung saja ketemu Tia tetangga yang memiliki hobi yang sama, kecuali hobi belanja! Meli sangat tidak suka! Tapi….. mau negur Tia, segaaaaaan…... takut ngambeknya kumat, khan...gawat?! Nanti nggak punya teman curhat lagi dong. Serasa langit tanpa bintang!
* * *

“Meli, temanin daku pulang sekolah ke toko Asy-Syamil ya!” ujar Tia sambil merapikan buku Matematikanya saat istirahat pertama. Meli yang duduk di sampingnya mendelik.

“Ngapaiiin? Belanja lagi? Tia…., udah dong kurangi belanjanya, enakan ditabung, bisa naik haji, atau ke Afganistan ketemu Osama bin Laden, he...he..” Meli tertawa kecil. Hatinya miris. “Hemat sedikit kenapa sih,” protesnya dalam hati.
“Please.... temanin, daku lagi ke-sem-sem ama jilbab yang ada bordirannya, seperti yang di pake Odang Ria waktu Kajian Mingguan kemaren itu lho, coklat susu! Wah.... daku terbayang-bayang! Kebawa mimpi deh. Ayoo….dong Tia sayang, temani daku yah? Mau yah?” suara Tia memelas sambil menarik-narik tangan Meli.
Deg! Meli menelan ludah. Tia suka jilbab warna coklat susu? Yang ada bordiran? Yang langsung pake? Nggak pake peniti lagi? Yang kemaren dipake Odang Ria kakak kelas yang selama ini membina di Rohis? Aduh.... kenapa harus jilbab itu? Apa nggak ada jilbab lain aja? Kok sama sih? Meli diam tak mengucapkan apa-apa. Hatinya berdebar keras. Semangat belajarnya langsung turun dratis. Duu…. gimana yah? Sedangkan Tia mendesak minta dianterin membeli jilbab itu. Jilbab yang menarik perhatiannya beberapa hari ini, bahkan dengan rela menyisihkan uang jajan untuk membelinya, tapi ternyata? Ya….demi persahabatan, akhirnya Tia memilih untuk mengalah.
* * *

Di toko Asy-Syamil Meli sibuk membongkar lipatan jilbab yang tersusun rapi Sedangkan Tia sibuk di rak buku, maklum ada novel terbaru, ya... sekalian numpang baca gratis, daripada hati sesak melihat Meli memilih jilbab impiannya. Nggak ku-ku deh….
“Tia, cepatan dong, ini sudah hampir jam tiga lho, ntar dimarahi Mama nih! Katanya mau beli jilbab coklat susu aja, itu sudah dapet, kok nyari yang lain? Mau beli berapa sih…..non?” Meli menghampiri Tia. Ditangannya ada beberapa potongan jilbab dengan bordiran yang sangat indah beragam warna.
“Iya nih, daku kok jadi bingung yah? Tiba-tiba aja…. daku naksir jilbab ungu, gimana menurut dikau Mel, cocok nggak? Sepertinya…. daku mau beli dua-duanya aja” ujar Tia sambil tersenyum manis ke arah Meli, Meli pun membalasnya kecut. Tapi Tia tak menyadarinya. “Ahh.... Tia tak tahukah dikau perasaanku?” bathin Meli miris. Jilbab bordir coklat susu itu kian mengodanya, tapi untuk membelinya? Nggak bisa!! Uangnya belum cukup. Ambil uang tabungan? Haruskah? Hanya untuk sekedar jilbab baru?
* * *

Hari ini Tia tidak sekolah. Izin, karena Bucik Ani, adik Mamanya menikah di Manna, Bengkulu Selatan. Sekitar tiga jam lebih dari Kotamadya Bengkulu. Selama perjalanan kesana akan banyak ditemui tanaman sawit, jauh. Meli merasa sepi. Duduk sendirian. Be-te banget nggak ada teman curhat. Nelangsa nih!
Sebenarnya Tia tidak lama sih izinnya, hanya 2 hari, karena Tia berjanji untuk segera pulang setelah resepsi Bucik Ani. Dari tadi Meli diam saja duduk sendiri di kelas saat istirahat, teman-temannya sudah sejak bel berbunyi istirahat menyebar ke kantin, ke mushola, ke perpustakaan, atau mejeng di bawah pohon besar di depan kelas.
Bangku di sampingnya kosong karena Tia tidak masuk sekolah. Diliriknya berkali-kali. Duu…. benar-benar tidak enak bila sendirian begini. Belajar sendiri, ke kantin sendiri, buat pe-er sendiri, ahhh.... masih enak ada Tia! Tiba-tiba Meli jadi kangen dengan Tia. Meli ingin sekali melihat Tia mengenakan jilbab coklat susu yang baru saja dibeli. Walau tak dapat memiliki tapi tetap dapat menikmati keindahan jilbab itu. Begitu keinginan Meli. “Tia….cepat pulang dong!” pintanya dalam hati.
* * *

Pulang sekolah. Dengan lesu tanpa semangat, Meli duduk termenung di kamar lantai dua, tiba-tiba adiknya Doni teriak-teriak dari lantai dasar.
“Inga, ado.... pesan dari ayuk Tia, dalam asoi hitam dekek telepon,” teriak Dodi dari lantai bawah. Meli tersentak dari lamunannya. Dodi adiknya kelas 5 SD itu berlalu dengan cueknya. Kebiasaan jeleknya belum sembuh juga, suka teriak-teriak, padahal apa susahnya sih naik tangga sedikit, menyampaikan pesan pelan-pelan? Kan…lebih sholeh…., tull nggak?
Meli mengambil asoi hitam itu dan membawanya ke kamar.
“Apa ini?” Meli heran. Sepucuk surat dan ….

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Jreng...... cak mano Mel, elok dak jilbab coklat susu nyo? He...he... kaget ya daku tahu kesukaanmu? Begini ceritanya….. Pas pulang sekolah beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja daku mendengar pembicaraan Mama kita berdua. Kata Mamamu, dikau minta dibelikan jilbab baru, padahal waktu itu tanggal tua, he...he...
Trus.... daku emang sengaja ngajak dikau ke Asy-Syamil lagi buat ngetes dikau. Wah... ternyata dikau emang suka banget dengan jilbab itu yah? So...berhubung daku ada uang lebih, daku hadiahin buat dikau, eh... iya ini kado ultahmu, met ultah ya! Semoga mendapat umur yang berkah dan.... daku akan janji mau ngurangin jatah belanjaku, mau nabung! Biar bisa ke Malaysia ketemu Raihan, ha...ha...ha..., mau ikut nggak?
Eh udah ya, tunggu daku pulang ya. Pas Kuliah Mingguan nanti dipake ya jilbabnya!
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Your best friend,
Tia

Meli tergugu, haru, ternyata ini sandiwara Tia? Wah kejam banget mempermainkan perasaan orang! Upsss... ini hari ultahku yah? Kok aku lupa yah? Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memperbaiki amal, ah.... Tia, kadomu cantik sekali, aku suka! Aku mau coba dulu ahhh...., Tia merasa nggak sabaran. Tiba-tiba...

Dug!Dug!Dug! Blarrrrrrr.......
Meli tersentak.
“Inga tolooooong!” suara Dodi menjerit.
“Pasti jatuh dari tangga?” tebak Meli cuek. Tapi...kok?
“Meliiiii, bangun, ini sudah jam lima sore, sudah shalat Asar belum?” suara Mama terdengar.
“Bangun? Jadi hanya mimpi?” Meli terduduk lemas. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Asoi hitam memang tidak ada. Meli mencubit pipinya, sakit! Jadi hanya mimpi? Lalu…. surat Tia dan …. jilbab coklat susu tadi?


Bengkulu, 5 Juni 2003

Ket :
Odang : Kakak Perempuan anak pertama
Inga : Kakak Perempuan anak tengah
Asoi : Kantong plastik (Kresek)
Bucik : Tante
Dekek : dekat
Cak mano: Gimana

10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an




10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an


Pengarang : Izzatul Jannah, Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma


Kangen buku bermutu? Ini salah satu buku bermutu yang saya baca di bulan ini. Maklum jauh dari toko buku. Saya baru dapat buku ini dari seorang murid saya. Wow! Langsung deh gurunya jatuh cinta dan ikut membelinya :)

Membaca kisah keluarga Ibu Wiwi dan Pak Tamim membuat saya kembali menata vis dan misi keluarga kami. Mau bagaimana kami mengarahkan anak kami? Terkadang rencana sebelum menikah sangat detail menjadi sedikit bergeser karena keadaan. Baik faktor internal, maupun eksternal.

Kembali ke buku ini, sengat detail membahas bagaimana anak-anak mereka dapat mencintai kegiatan menghapal alquran. Walaupun dimasa kecil, anak-anak mengalami kelelahan dan rasa bosan (maklumlah anak-anak, kita aja sering gitukan? Hehe…) berjalan dengan waktu, mematangkan pikiran mereka betapa pentingnya menghapal alquran.

Saya cukup “tertampar keras” membaca buku ini. Betapa saya agak terlena mengawas anak saya. Walau ikut PAUD dan sudah hapal hadist-hadist pendek, ikut sholat dan membaca huruf hijaiyyah, tapi saya masih terlalu banyak tolerasi untuk nonton TV-nya :)
Setelah membaca buku ini, kami (bersama Abinya), sepakat “ngerem” nonton TV. Huah…si Faris kritis banget lihat iklan, “Ih malu, seksi!” aih…anak segitu?

Belum lagi pergaulan dengan temannya, terkadang terucap kata-kata kotor juga, sulit menghapusnya. Perlu trik dan pendekatan yang pas. Nah, dalam buku ini peran seorang ibu sangat banyak untuk mendampingi seorang anak agar berhasil mengapal alquran, seperti mengajarkan secara langsung Iqro pada anak kita (tidak dengan guru), usahakan membaca alquran di dekat anak, memberikan semangat/kasih sayang sehingga anak nyaman untuk menghapal alquran. So, buku ini inspiratif banget deh!

Saya ingin jadi wartawan politik!!!

sebenarnya sudah pernah sih mengalami jadi wartawan kampus en magang jadi wartawan di Koran Rakyat Bengkulu, tapi karena ngejar ujian skripsi waktu itu, saya mengundurkan diri. Sampai saya pernah dimarahi dosen karena membongkar kasus jual beli nilai di kampusku, trus membongkar kasus "ayam-ayam kampus" serem deh.

Ada juga meliput acara gelar seni Bengkulu Fair ampe malam, ketemu ikhwan ditegur, duuu... gak mudah akhwat jadi wartawan ya ?:)

Nah, berbekal pengalaman itu, kalo ditanya mau milih jadi wartawan apa? Saya ingin kembali menjadi wartawan politik!

Mimpinya: Saya akan ikut mendampingi presiden atau pejabat penting lainnya. Mengetahui up to date pergerakan arah perpolitikan Indonesia. Trus, kalo udah tau, kan asik tuh ketemu pejabat-pejabat penting, bisa mudah foto-foto en tanda tangan trus di buat album en di pajang di rumah, hahahaha....*narsis mode on*

Lepas soal narsis itu, saya punya cita-cita mulia, ingin tahu peta perpolitiklan Indonesia, agar tidak diputar balikan fakta sejarah kita (ingat film-film sejarah en buku sejarah SD yang tidak sesuai dengan aslinya?). Biar pejabat yang sok pengen jadi artis, sibuk jadi dalang, nyanyi en memperkaya diri sendiri, diberitakan jadi Headline............ trus diseret KPK trus....di penjara (aih kejam ya? biarin!) hehehe...

Selain itu, wartawan politik punya bergaining position yang cukup tinggi (nah kumat lagi deh!), menurut pengalaman yang sudah-sudah banyak mantan wartawan politik jadi menteri:) naaah kalo aku ditawari jadi menteri, aku mau deh jadi menteri pendidikan, biar gaka ada UN yang menyesatkan, kurikulum yang pas...biar gak berubah en arahnya jelas, en nggak ngejar proyek aja:)

So, siap-siap kalo aku jadi wartawan politik, ayooo yang mau minta tanda tangan! (aih gak nyambung ya!)

Sayur, Telur dan Kecap

Anakku Faris usianya kini 4 tahun 3 bulan. Dari kecil susahnya makan. Apalagi ada sayuran. Tapi pas bayi sih belum. Masih suka makan sayuran. Aku sering masak nasi tim sendiri dengan irisan wortel,kentang, ati ayam, atau masak sop, bening, Faris sangat suka. Menginjak usia 11 bulan, Faris dirawat di Rumah Sakit karena bronchitis dan divonis menginap TB.

Sejak itu, Faris susah makan. Banyak vitamin, cekok-an jamu, susu yang bermerk mahal kami coba. Faris tetap susah makan. Padahal menu makanan anak-anak di majalah sering kucoba, tetap Faris tidak mau makan banyak. Faris cuma mau makan jika menunya nasi, abon, kecap, telur, dan harus tanpa kuah. Kalau makan sop ya maunya cuma kentang dan wortel, ayamnya juga disuir-suir sampai kecil-kecil. Sampai gak enak hati ketika orang-orang sempat ngejek, “Orang tuanya sarjana, kok anaknya kurang gizi!” sedih banget! Tapi perjuangan belum selesai! Faris harus mau makan dan sehat!

Sampai suatu hari, aku melihat sebuah tanyangan di Televisi teknik mengajak anak makan sayuran, langsung saja ku praktekan, dan Alhamdulillah mini Faris mau makan sayuran. Tekniknya adalah :
1. Sayuran bayam atau kangkung diiris tipis-tipis lalu ditumis dengan margarin, setelah agak layu masukan air sedikit, setelah mendidih, masukan telur, aduk sampai merata, berikan sedikit kecap manis. Siap disajikan.
2. Kentang dan wortel diiris dadu kecil-kecil, ditumis dengan margarin, setelah teraduk rata, berikan sedikit air dan tunggu mendidih. Setelah kentang dan wortel agak lembut, masukan telur dan aduk sampai rata. Siap disajikan.

Nah, begitulah Faris mau makan sayur. Susah sekali memang. Ikan dan ayam tidak mau, maunya telur dan kecap saja. Setiap hari bisa masak telur 3-4 kali lho! dan jika ada sayur harus ada telur dan kecap:) Tapi mau bagaimana lagi dari pada tidak mau makan? Selain susah makan atau makan sayur, Faris kalau makan lamaaa banget! Dikemut terus, kecuali pas maenan, makanya setiap pagi sebelum sekolah, Faris sarapannya lama, tapi Alhamdulillah sekarang sudah mau bangun pagi dan sarapan sejak jam 06.00-07.00 . Setelah itu baru berangkat sekolah.

Kenapa Kamu Menulis?

Kalo ditanya sekarang, mungkin jawaban saya banyak. Karena menulis itu dakwah. Kalo menulis nama kita akan abadi (alias gak ikut mati). Menulis juga melanjutkan tradisi Islam. Menulis bisa dapat uang, bla...bla....bla...

Tapi dulu beda. Zaman aku kuliah, aku gak pede karyaku dikirim media massa. Aku lebih suka menulisnya sendiri dan membuat Mading di Hima-Hutan. Uahhh itu karena terpaksa, abis ngajak teman pada gak mau sih, jadi isi mading hampir 80% karyaku sendiri, qiqiqi.........

Semua berlangsung hingga pada suatu hari...jreng...jreng.... teman-teman pada heboh serial atau cerita bersambungku di Mading Hima-Hutan, berjudul "Beceng" alias Bebek Cengeng. Mereka maksa minta sambungannya. Apalagi aku pake nama-nama temanku sendiri:)

Ih ceritanya tentang seorang cowok yang cengeng en cerewet hahaha....tokohnya kukutip dari temanku dulu :) Nah sahabatku yang cantik en imut Rismayati selalu mendorongku untuk kirim ke media massa,maka kukirimlah karyaku ke Majalah Sabili. Alhamdulillah langsung dimuat!

Lain lagi awal aku terjun ke Media Unib, jadi wartawan kampus? takuuut! wong pake jilbab lebar en trus gaya koboi gini? dulu gak punya sendal cewek, semua sendal gunung:), maka pas Kak Yansen memberikan wejangan untuk terjun ke Media Unib, aku sempat menolak en kuatir banget gak bisa jadi wartawan kampus. Tapi berkat niat untuk dakwah en bismillah aku nekat menampakkan diri ke rektorat menjadi wartawan kampus. Aih hari pertama aku steees banget, beritaku gagal total, aku gak buat berita sesuai yang diminta. Mau nangis! mau bunuh diri? amit-amit deh, aku langsung bongkar koran en majalah dan menstabilo semua kata-kata yang bagus buat berita. Yang pasti aku tahu buat berita harus ada 5W + 1 H. Alhamdulillah selanjutnya lancaaar. Aku menjadi wartawan Media Unib sampai medianya terancam bubar akibat pergantian rektor. Tapi kayaknya sekarang udah ada lagi ya? Makasih banget patnerku Dodi yang 'bantai' terus karyaku.

Juga buat patnerku di Buletin UKM-Rohis, Maman Fajri. Penuh liku membidani buletin dakwah kampus. Sampai akhirnya kami mengikuti pelatihan jurnalistik Islam di UI, pulangnya baru deh menelurkan buletin dakwah kampus.

Menjelang ujian skripsi, aku sempat ditawari Pak Firdaus jadi calon wartawan di Rakyat Bengkulu. Senang banget mengalami hari-hari jadi wartawan. Pagi rapat proyeksi, siang cari berita, esoknya berita kita diterbitkan. Sayang aku harus memilih, aku harus mengejar ujian skiripsi yang terus terkendala (Kisah lengkapnya ada di Antologi Kisah Skripsi). Tapi aku terus punya impian suatu saat punya majalah/tabloid/koran sendiri, amiiin:)

Nah, selanjutnya siapa yang terus memberi aku semangat menulis? Yap! Teh Pipiet Senja yang terus memberi semangat pada kami yang belum memiliki karya kala itu, tak lelah beliau menjawab pertanyaan ini-itu, sms-an tanya a-z, aih...makasih ya, Teh Pipiet (kangen dipeluk Teteh. Hiks!) aku merasakan kehangatan seorang ibu dan luasnya waktu yang diberikannya.

Kini aku mulai menikmati menulis. Merindukan jika tidak menulis. Memaksa diri untuk semangat menulis, walau jauuuuh banget dari teman-teman yang sudah produktif. Jadi, marilah kita berbagi ilmu, saling menyemangati. Karena kita tidak bisa seperti sekarang tanpa ada orang-orang di belakang kita.

Mau tanya tentang kepenulisan en suka-duka menulis? ayooo share, yuk! :)

Sejuta Kenangan Bersama Ayah



-->Nasyid apa yang paling berkesan bagimu?
Aku akan langsung menjawab, Nasyid Kenangan Bersama Ayah dari tim nasyid Saudara Persaudaraan!
Mengapa?
Ya, karena nasyid itu begitu istimewa! Menceritakan kenangan seorang anak pada ayahnya! Sampai-sampai aku harus me-request nasyid ini dan mewanti-wanti kepada manejer-nya, ketika walimahanku!
Ya, pas walimahanku, aku sengaja me-list nasyid ini untuk didendangkan di hari bersejarahku!
Dulu, ketika kecil, ketika awal-awal kehilangan ayah yang meninggal di tahun 1991, aku sampai hapal lagi berjudul Ayah dan not lagunya di piano! Ah, sosok ayah benar-benar menjadikanku tegar!
Tak cuma aku! Keempat kakakku lainnya yang semua perempuan juga menjadikan sosok ayah sebagai pedoman mencari pendamping! Figur ayah menjadi sangat penting membentuk kepribadian kami! Sungguh, tanpa pribadi ayah mungkin kami semua akan goyah, karena ayah begitu istimewa di hati kami!
Sejak SMA aku membuat daftar list sifat yang harus dimiliki pendampingku kelak, salah satunya harus memiliki sifat seperti ayah, apa itu?
Suka politik, rajin ibadah, suka organisasi dan tidak merokok (ayah berhenti di hari tuanya).
Syukurlah suamiku sekarang memiliki beberapa sifat seperti ayahku.
* * *
Ayahku cakep, pintar, jago masak, penyayang, dan lain sebagainya.
My father Is best lah!
La iyalah muji ayahnya sendiri! Hehehe...
Sungguh beruntung aku mengenal lelaki seperti ayahku. Ya, walau masa kecilku sangat sebentar bersama ayah.
Sejak aku SD kelas 3 ayah bertugas di Argamakmur, Bengkulu Utara. Hanya Jumat-Minggu ayah ke Kota Bengkulu. Aku dan ketiga kakakku tinggal di rumah Bengkulu, sedangkan ibu menemani ayah bertugas di Argamakmur. Ayah berdinas di kantor Perindustrian.
Ayah sangat menghargai waktu berkumpul! Hari-hari week end benar-benar istimewa. Ayah akan mengajak kami sekeluarga makan di luar atau piknik beramai-ramai bersama keluarga.
Mobil BW Kodok kami penuh, bertumpuk, seperti susun dencis (ikan sarden), kebayangkan padatnya kan?
Jangan salah yang ikut bukan hanya kami anak-beranak, tapi juga sepupu, Andung (ibu ayahku) juga beberapa kakak angkatku. Jadilah mobil kecil kami itu di gelar tikar di dalamnya. Kami terbiasa duduk dengan berpangkuan agar semua dapat ikut jalan-jalan. Seru ya?
Rumahku seperti Naga
Dulu aku sering sekali iri melihat rumah temanku besar, bagus dan megah! Padahal pekerjaan ayahnya sama-sama PNS seperti ayahku. Bahkan ayahku punya jabatan di kantornya. Ayah menjadi Kakandep Peridustrian Bengkulu Utara.
Tapi kok rumah teman-temanku bagus-bagus ya? Berkeramik, kendaraan banyak, pakaian gonta-ganti, jauh berbeda dengan keluargaku!
Kenapa?
Setelah dewasa aku baru dapat mencerna! Sejak kecil, rumahku terbiasa banyak orang! Ayahku yang anak tua dari 8 bersaudara memiliki tanggungan menjadi kepala keluarga. Nah ayahku memiliki tanggungjawab yang tinggi terhadap pendidikan adik-adiknya. Semua adik lelaki ayah tinggal di rumah dan di sekolahkan.
Tak cuma adik kandung ayah, tapi juga saudara sepupunya, saudara satu kakek bahkan orang yang hanya kenal gara-gara pernah menjadi tetangga saja numpang tinggal di rumah kami.
Jadilah rumah kami seperti naga! Panjang ke belakang! Sambung menyambung seperti ekor naga! Hehe... Tak rapi seperti rumah temanku yang bangunan tersusun rapi. Punya denah atau dibuat kerangka dari seorang arsitektur.
Rumahku bagaimana mau rapi? Jika setiap orang baru yang tinggal di rumah, maka kami akan tambah kamar, datang lagi yang lain, tambah kamar. Ruangan keluarga pun di sekat dengan triplek dan berbagi kasur.
Sering juga yang laki-laki hanya tidur di ruang tamu. Maka tak heran jika jadwal makan tiba, rumahku seperti orang hajatan! Menggelar tikar, makan lesehan dan makan serentak dari yang tua sampai anak-anak.
Ibu terbiasa memasak sayur dengan jumlah yang banyak! Walau lebih banyak kuahnya dari pada ikannya tapi yang penting makan bersama hehehe
Derwawan
Jika ditanya berapa si gaji ayahku?
Tuing-tuing aku tidak tahu pasti! Apalagi kala itu aku masih kecil. Tapi dari cerita ibu kala itu, jika pulang gajian ayah selalu pulang dengan gaji yang tak lengkap! Aih, raib ke mana?
Ternyata ayahku selalu membagikan pada beberapa karyawan di kantornya. Ada yang pinjam uang karena anaknya sakit, ada juga yang cuma-cuma ayah berikan. Tapi alhamdulillah, ada saja rezeki yang kami dapat. Mungkin juga keberkahan itu karena ayah mudah berbagi.
Aku semakin yakin ayahku rajin memberi, ketika ayah meninggal, banyak sekali pelayat yang datang. Satu per satu bercerita tentang keramahan dan kemurahan ayah berbagi. Apalagi soal pinjam uang.

Jago beberapa bahasa daerah
Kenaikan kelas 6 SD aku pindah sekolah, dari sekolah di Kota Bengkulu, aku pindah ke di SD Argamakmur, Bengkulu Utara.
“Agar lebih dekat dengan ayah!” begitu alasan ibu.
Nyatanya aku memang semakin dekat dengan ayah. Hampir setiap Hari Minggu aku ke pasar dengan Ayahku.
Beliau tidak malu berbelanja, berbeda dengan lelaki kebanyakkan. Mereka berfikir belanja hanya urusan perempuan, lelaki tugasnya mencari uang.
Tidak dengan ayahku. Karena sudah terbiasa kos di Jogya tempat beliau sekolah dulu, ayah senang berbelanja sayuran.
Jika belanja dengan ayah selalu dapat harga murah. Jelas saja dapat diskon, abis ayah pintar sekali menawar harga!
Kok bisa? Ayahku menguasai berbagai bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda, Rejang, Padang, Talo (Bengkulu Selatan) dan sedikit Bahasa Inggris dan Belanda.
Nah, ketika bertemu dengan pedagang asal dari Padang, maka ayah akan berdialog dengan logat Minang Kabau, ketika bertemu pedagang asal Jawa, ayahku berdialek Jawa.
Huah.... tentu saja hasilnya harga diturunkan karena pedagang menduga ayah satu asal daerahnya. Benar-benar belanja dengan hemat kan? Asik banget!
Sampai sekarang aku belum bisa meniru kemahiran ayahku menguasai berbagai bahasa daerah. Apalagi menawar harga, aku paling malas! Kadang langsung kubayar tanpa menawar lagi, he....he...
Nah ke pasar bersama ayah pastilah mencari tulang sapi! Kami akan membuat sop sum-sum sapi! Sampai di rumah, ayah benar-benar masak sendiri. Ibu membantu merapikan belanjaan dan menyiapkan bumbu-bumbu yang disiapkan. Ayahku akan membantu memasak sop dengan bumbu sepesialnya. Emmm....sedap deh!
Ayunan Kain Sarung
Kenapa aku suka menulis? Kenapa aku jatuh cinta dengan menulis? Mungkin itu hasil dari didikkan ayahku. Di masa kecil aku sering sekali berayun-ayun di kain sarung ayahku. Pulang kantor ayah akan berganti dengan baju kaos oblong dan sarungnya. Aku akan duduk di atas pangkuan ayah dan berayun di kain sarungnya sambil melihat ayah membaca koran.
Paling sedikit tiga jenis koran setiap hari ayah baca. Mengkin itu juga yang membuat aku mudah menulis saat ini. Dulu aku kesulitan membaca, aku baru bisa membaca lancar di kelas 4 SD! Untuk merangsang minat bacaku, ayah selalu membeli majalah anak di kala itu, seperti Bobo, Ananda dan Donal Bebek. Akhirnya aku jadi ketagihan membaca.
Waktu pertama kali tulisanku di muat di majalah Sabili, kakakku langsung nyeletuk, “Wah nularin bakat ayah tuh!”
Benarkah? Ayahku suka sekali menulis di diary, sampai sekarang diary ayah kami simpan menjadi kenangan. Ayah rapi sekali menuliskan apa saja kegiatannya di dalam diary.
Dari catatan ayah di buku hariannya aku lebih banyak mengenal ayah. Aku baru tahu ternyata ayahku aktif diberbagai organisasi. Ayah pernah menjadi Pimpinan Pemuda Melayu di Jogyakarta, pernah menjadi Ketua DEMS di UNJA waktu kuliah hukumnya. Ayah juga menjadi berbagai nara sumber diberbagai pelatihan.
No Bicara Jorok dan Kasar!
Ayahku juga senang sekali nonton berita. Pernah suatu malam ayahku mengingatkan kami untuk memanggil beliau jika sudah pukul 21.00 untuk nonton berita di TVRI. Nah, saking asiknya nonton Video (zaman dulu belum ada DVD) tentang kunfu, kami lupa memanggil ayah yang sedang asik membaca koran.
Jadilah kami kena omel ayahku. Ya, cuma kena omel saja! Ayahku tak pernah mengucapkan kata-kata kotor, apalagi kata-kata kasar dan bertentangan dengan agama Islam. Ayah juga tidak pernah memukul.
Ayahku jarang sekali marah, sebaliknya ayahku sangat humoris tapi cukup disiplin, apalagi soal ibadah. Jika Magrib tiba, TV tak boleh menyala. Harus mati dan kami semua harus sholat dan dilanjutkan dengan membaca Al-Quran. Aku bersyukur sekali masa kecilku sudah dekat dengan agama.
Usai Magrib kami diwajibkan untuk mengaji. Ayahku juga begitu. Sesibuknya di kantor, sholat tak pernah tinggal. Ayah selalu membaca Al-quran usai sholat Magrib. Ayah juga bisa membaca arab gundul. Kulihat beberapa buku ayah berbahasa arab gundul masih tersimpan rapi sampai sekarang.
Soal pendidikan, ayah sangat mendukung kelima anak perempuannya untuk sekolah setinggi mungkin. Bahkan kakak keduaku diajarkan membawa mobil agar bisa mandiri. Ayah selalu mengecek ke kamar-kamar jika malam hari. Mengecek jendela, selimut kami, bahkan menepuk nyamuk jika ada nyamuk yang hinggap. Itu sangat berkesan sampai sekarang.
Santun kepada Orang Tua
Siapakah yang sangat kehilangan ayah ketika beliau meninggal selain ibu dan kami anaknya!
Andung!
Ya Andung (ibunya ayah) adalah yang paling kehilangan. Andung sampai harus dibohongi oleh adik ayah yang perempuan ketika ayah meninggal. Apalagi ayahku meninggal cukup mendadak, beliau tidak sakit. Hari Jumat ayahku tugas keliling ke pengerajian kecil di Muko-muko, Bengkulu Utara.
Hari Senin, ayah pulang di antar ambulance, Asma dan Jantung ayah kumat. Beliau meninggal di Rumah sakit Bengkulu Utara.
Ayahku sangat santun ke pada Andung. Bahkan ayah berpesan kepada kami apa yang Andung minta, berikanlah, nanti ayah akan ganti. Maklum menjelang usia senja, Andung mulai pikun. Tapi ayahku dengan sabar mengikuti permintaan Andung. Ayah rajin mengajak kami silaturahmi ke rumah Andung, membawa makanan kesukaan Andung ataupun pakaian. Bahkan tua yang dulunya beratap rumbia, perlahan ayah bangun untuk Andung.
Ah, betapa berbakti ayah terhadap orang tuanya ya? Bahkan karena Datuk meninggal dan ingin menjaga Andung, ayah berani pindah tugas. Awalnya ayah kerja di Jambi pindah ke Bengkulu. Padahal perstasi kerja ayah cukup bagus di Jambi. Tapi demi berbakti pada Andung, ayah memilih pulang ke kota kelahirannya.
Ayahku bukan Malaikat
Sejuta kenangan manis bersama sudah tertoreh rapi. Benarkah ayahku sempurna? Satu per satu aku temui kisah kelam ayah di buku diarynya atau pun cerita orang-orang di sekitar. Bahkan dari ibu menjelang kematiannya.
Ya, ayahku bukanlah malaikat, ayah tetap punya kesalahan. Tapi begitu banyak kebaikan yang disematnya menyebabkan kelemahan beliau tertutupi.
Ayah memang sempat tergoda perempuan lain ketika ibu sudah kehilangan dua anak lelakinya. Kabarnya sih kena guna-guna karena ayah sempat cles dengan rekan kerjanya. Saat itu kedua kakak lelakiku meninggal ketika kecil karena sakit.
“Ayahmu sangat romantis, tak pernah merendahkan ibu yang hanya berpendidikan rendah. Ayah begitu mendorong ibu untuk berkembang. Lihatlah ibu bisa mendirikan Sanggar Batik Besurek dan bisa membiayai kuliah kalian ketika ayah meninggal. Ibu tak akan bisa mencintai lelaki lain selain ayah,” begitulah cerita ibuku.
Walau sejak ayah meninggal ibu sempat ditawari orang untuk menikah lagi. Tapi ibu bergeming dan memilih setia.
Ah, ayah betapa aku ingin mengatakan aku sangat mencintaimu, walau hanya lewat tulisan ini. Tanpa teladanmu mungkin aku telah jauh dari jalan-Nya. Semoga kelak kita berkumpul di jannah-Nya. Amin.
Lampung Timur, 1 Agustus 2010