Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2021

Roboguru, Solusi Mengerjakan Soal Sulit

Roboguru, Solusi Mengerjakan Soal Sulit

Assalamualaikum Sahabat Smart Mom, 

Tahun ini Abang Fatih, anak keduaku naik kelas 4. Alhamdulillah selama belajar online aku dapat mendampingi dengan baik. Apakah selalu lancar? Tentu tidak, berapa kali terjadi drama, terutama belajar Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Arab. Ya, ternyata mengajarkan anak mandiri itu tidak mudah. Abang Fatih masih harus aku dampingi. Jadinya, materi sekolah selalu aku pelajari dulu sebelum dijelaskan ulang kepada Abang Fatih. Loh, memangnya sekolah tidak mengirimkan video? Tentu saja ada, tapi anaknya tetap butuh penjelasan dan belum mandiri mengerjakan sendiri tugas Lembar Kerja (LK) yang telah ada.

Senin, 12 Juli 2021

Belajar Lebih Menyenangkan Bersama Ruangbelajar by Ruangguru

Ruangbelajar by Ruangguru

Assalamualaikum Sahabat Smart Mom, 

Tahun Ajaran Baru sudah dimulai. Senin, 12 Juli 2021 sekolah anakku sudah mulai belajar secara daring. Walau belum materi pembelajaran belum dimulai, tetap saja pagi-pagi sudah harus isi absensi dan setor foto dengan seragam sekolah. Wow, hari pertama emang super heboh! 

Namun, kali ini aku sudah mulai siap mental. Dari menyiapkan baju seragam anak-anak, menuntun anak-anak sholat 5 waktu sampai tidur maksimal Pukul 09.00 WIB. Penuh perjuangan sekali, euy! Kuncinya tentu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. 

Sabtu, 14 November 2015

Mengenalkan Baju Adat Daerah Dengan Cara Menyenangkan Untuk Anak SD

Asyiknya Mewarnai Baju Adat

Assalamualaikum sahabat Smart Mom,

Mengenalkan Baju Adat Daerah Dengan Cara Menyenangkan Untuk Anak SD. Saat Faris belajar menghapal pakaian adat, aku jadi ingat saat mengajar dulu. Aku mengenalkan anak-anak kelas 1 dan 2 dengan cara mewarnai. Yup, menghapal pakaian adat sesuai daerah dengan cara yang menyenangkan itu perlu agar anak-anak lebih mudah ingat. Sayangnya, tak banyak guru atau orang tua yang kreatif untuk mencoba hal baru. 

Berikut tips Mengenalkan Baju Adat Daerah Dengan Cara Menyenangkan Untuk Anak SD :

1. Membaca buku atau dongeng tentang nusantara
Iya aku mengenalkan Faris beberapa buku mengenai nusantara. Kebanyakan buku berupa pict book. 

2. Membeli tempelan di dinding harganya murah kok, sekitar 3 ribu
Ada banyak poster dijual bebas mengenai baju adat, rumah adat, alat musik tradisional loh. Bahkan sekarang lebih mudah bisa dilihat di internet dan bisa diprint.

3. Tebak gambar
Ajak anak menebak gambar dengan permainan tebakan. Misal, ambar yang sudah diprint diberikan ke anak untuk menebak asal daerahnya. Begitu juga gambar rumah adat dan alat tradisionalnya. 

4. Membeli buku Atlas (di sana banyak gambar pakaian adat).
Faris juga dibelikan peta sehingga kami di rumah senang melihat peta nusantara (Kalau ini Abinya yang menemani cara membaca peta).

5. Memakai baju adat
Faris saat TK meggunakan pakaian adat Lampung. Saat itu Faris senang sekali dan menjadi pengantin kecil di acara Hari Kartini. Faris dikenalkan pakaian adat yang Faris pakai dari Lampung.

Faris pakai baju adat Lampung saat TK B


Nah, sahabat Smart Mom, itulah tips Mengenalkan Baju Adat Daerah Dengan Cara Menyenangkan Untuk Anak SD, semoga Selamat mencoba sahabat Smart Mom :)


Sabtu, 27 Desember 2014

Berdamai dengan Bahasa Indonesia Menuju Sukses UN

SDIT Baitul Muslim Tahun 2010

 Tahun 2010 yang lalu menjadi sebuah pengalaman indah bagiku. Saat aku dipercaya kepala sekolah untuk menjadi guru Bahasa Indonesia di kelas 5 dan 6. Otomatis aku menjadi pembimbing murid kelas 6 mempersiapkan Ujian Nasional (UN), khususnya pelajaran Bahasa Indonesia.
Awalnya menjadi tantangan besar untuk memulai mengajar Bahasa Indonesia. Biasanya aku hanya sebagai guru kelas I dan II, tapi tahun ini aku menjadi guru bidang study Bahasa Indonesia saja.  Tentu bukan yang mudah untuk berdamai dengan Pelajaran Bahasa Indonesia. Latar pendidikanku bukanlah dari FKIP atau Bahasa Indonesia, tapi dari S1 Kehutanan. Kepala sekolah memilihku karena aku dianggap layak.
“Kan sudah menjadi ketua FLP Lampung Timur, pasti jago menulis. Apalagi sudah menang lomba, kan?” tantang Kepsekku.
Bismillah aku menerima amanah ini dengan terus mencari cara agar aku lebih menjiwai Bahasa Indonesia. Pelajaran yang paling kusukai sejak SD. Alhamdulillah, aku tak menemukan banyak kesulitan. Bahkan, aku terbantu sekali. Aku  kembali belajar tentang drama, puisi, kalimat utama, anonim, antonim dan materi lainnya yang sangat berguna dengan hobi menulisku.
Saat yang dinantikan tiba. Aku belajar lagi mengenal karakter murid kelas 6 dan metode pendekatannya. Ya, ternyata tak semua murid yang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, pelajaran Bahasa Indonesia menjadi pelajaran wajib Ujian Nasional (UN).
“Duuu, bagaimana mengajak mereka berdamai dengan Bahasa Indonesia, ya?”
Akupun menyiasatinya dengan berbagai metode. Dari permainan, tebak-tebakan, pantun, Mading, drama, nonton film, dan lainnya menjadi ‘senjata’ pendekatanku. Semua agar murid kelas 6 menyukai Pelajaran Bahasa Indonesia yang kesannya ‘gampang’.
“Alah, Bu, Bahasa Indonesia nggak perlu belajar serius, kan bahasa kita sehari-hari,”
“Males, loh Bu, banyak bacaannya!”
“Bahasa Indonesia, mah, keciiil…”
            Begitulah komentar sebagian muridku. Mereka masih menganggap pelajaran Bahasa Indonesia bukan pelajaran yang patut dipelajari secara serius. Sedangkan aku semakin tertantang! Apalagi tahun sebelumnya nilai UN Bahasa Indonesia dari sekolahku, ada 3 siswa yang dapat nilai 10. Bagaimana dengan tahun ini? Aku berharap minimal ada 1 siswa yang berhasil mendapat nilai 10.
            Semester 1, aku benar-benar mempelajari karakter mereka, sehingga mereka makin enjoy. Naik ke semester 2, suasana mualai cair. Mereka sudah terlihat banyak kemajuan. Ternyata karakter murid kelas 6, banyak yang belajar sambil bermain. Inilah menjadikanku harus kreatif menciptakan suasana belajar yang fun.
            Jelang UN semakin dekat, les dari sekolah diadakan setiap hari Sabtu. Akupun semakin intensif memberikan bimbingan dengan mengulang materi yang telah dipelajari dari kelas 1-6.
Latihan try-out pun semakin sering digelar, baik dari pihak sekolah, maupun Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Pelan-pelan kemajuan sudah terlihat. Walau masih ada satu, dua murid yang masih menjadi PR besar bagiku agar nilainya semakin baik.
            Tak cukup dengan les di sekolah, aku mewajibkan anak-anak yang nilainya masih di bawah rata-rata untuk belajar di rumahku setiap malam Minggu. Sekitar 10 orang kuwajibkan untuk mengikuti bimbingan tambahan. Ternyata antusias yang datang cukup banyak. Tak cuma yang memiliki nilai di bawah rata-rata versiku, tapi yang sudah kuanggap ‘lulus’ juga hadir.
Alhasil, belajar tidak maksimal. Mereka malah belajar sambil bermain hp. Wih, Hp-nya canggih-cangih deh, kalah ama gurunya. Dasar ABG, ringtone merekapun mengikuti lagu-lagu tren zaman sekarang. Dari Wali Band, ST-12, Ungu dan lainnya. Membuat aku semakin cenat-cenut dengan pola muridku. Olala, PR-ku tak cuma mengantarkan mereka sukses di pelajaran Bahasa Indonesia saja,  tapi juga mengingatkan pola pikir mereka agar tak terlalu jauh dengan perangkap Ghozul Fikri, khususnya musik. Akupun mengambil tindakan tegas. Selama les berlangsung hp mereka disita dan tak boleh kirim SMS-an atau mengaktifkan earphone.
            Ujian Nasional semakin di depan mata. Aku semakin dag dig dug dengan hasilnya. Sekolahku memegang erat prinsip untuk tidak membocorkan soal UN kepada murid-muridnya. Apalagi membocorkan jawaban. Kami murni mengandalkan kemampuan anak-anak dengan bimbingan yang telah kami berikan selama ini. Agar semakin memperkuat kepercayaan diri murid kelas 6 kami adakan Mabit bersama dengan beberapa kegiatan motivasi.  Kami mengajak mereka untuk berserah diri kepada Allah SWT terhadap hasil akhir.
            Pagi menyambut UN. Anak-anak berdatangan ke sekolah dengan sambutan yang tegang!
            “Bu, doakan saya ya,”
            “Bu, aku takut!”
            “Bu, aku tak mau kalo nggak lulus!”
            Bermacam-macam curhat mereka. Aku dan beberapa guru kelas 6 berusaha menenangkan mereka. Kami membimbing  mereka untuk berdoa dan mempersiapkan kondisi ruhiyah mereka sebelum pengawas masuk ke ruangan.
            Keluar ruangan mereka riuh kembali.
            “Bu, ada banyak soal yang tak ada jawabannya!” seorang siswa mengeluh.
Kucek ulang soal yang ada dari pengawas. Astaga! Memang ada sekitar 3-4 soal yang susah ditebak jawabannya. Bahkan analisaku, jawabannya tidak ada alias soal yang salah.
“Wah, ini alamat anak-anak tak ada yang nilai 10, nih!” batinku. Kucek ulang soal Bahasa Indonesia dengan teman sejawatku. Sama! Mereka juga tak menemukan jawaban. Akupun pasrah, tahun ini kemungkinan dari sekolahku tak ada yang mendapat nilai 10 pada pelajaran Bahasa Indonesia.
Waktu berlalu hingga sampai dengan hari penentuan kelulusan. Jerih payah murid dan guru kelas 6, terutama yang diamanahkan pelajaran UN terjawab sudah. Kepala sekolah telah mengirimkan SMS tentang kelulusan murid-murid kami. Alhamdulillah, mereka lulus 100% dan ada yang mendapat nilai 9 lebih untuk pelajaran Bahasa Indonesia.
            Kabar gembira ini kami kunci rapat sebelum diumumkan langsung dengan murid kelas 6. Seperti tahun sebelumnya, tradisi pengumuman kelulusan akan dilakukan. Kami mengumpulkan murid kelas 6 di Masjid dan guru-guru kelas 6 memberikan nasehat.
Satu per satu guru memberikan nasehat agar mereka tetap tenang dengan berbagai kemungkinan.
            “Hasil kelulusan telah ada. Apakah kalian lulus semua?”
            “Jangan besar hati, jika kalian dinyatakan lulus, dan jangan pula kecil hati jika kalian tidak lulus,”
            “Coba, pejamkan mata! Bayangkan kedua oarng tua kalian yang menyambut dengan sedih ketika mengetahui kalian tidak lulus Ujian Nasional! Semua karena kalian malas belajar! Karena menyepelekan salah satu pelajaran! Bayangkan bagaimana hancurnya perasaan orang tua kalian! Mereka telah bersusah payah membiayai kalian sekolah, tapi apa balasan kalian? Kalian tidak lulus!”
            Suara tangis mulai terdengar. Murid kelas 6 sudah bertangisan.
            “Apakah kalian merasa lulus semua?”
Mereka masih menggeleng lemah dengan mata sembab.
            “Kini bayangkan wajah kedua orang tua kalian yang menyambut dengan gembira ketika kalian semua lulus Ujian Nasional. Bayangkan wajah ayah, ibu, kakak, adik dan keluarga kalian. Mereka sangat gembira dengan keberhasilan kerja keras kalian selama ini!”
            Kembali senyum optimis terpancar di wajah-wajah mereka.
            “Kelulusan bukanlah suatu akhir dari perjalanan kalian. Tidak luluspun bukan berarti kiamat dalam hidup kalian. Untuk itu, kami dewan guru berharap kalian semua tetap  optimis dengan hasil yang kalian lihat nanti. Sekarang bersiaplah, nilai sudah ditempel di depan kantor di lantai 2, silakan kalian melihat sendiri dengan tertib!”
            Usai sudah tradisi ‘wejangan kelulusan’ khas sekolahku. Kami menyimpan senyum geli dan rasa haru. Tak lama teriakan Allahu Akbar bergema dan tangis haru mereka kian pecah.
            “Subhanallah aku, lulus!”’ teriak mereka.
            “Aku juga!” teriak yang lain.
            “Kita semua lulus!”
            Mereka meluapkan kebahagian dengan terkontrol. Mereka semakin bersyukur tanpa ada coretan di baju seragam, teriak yang histeris, tapi semua penuh dengan memuji asma Allah semata.
Alhamdulillah Tahun 2010 murid kelas 6 semua lulus UN dengan nilai yang cukup memuaskan. Akupun lega telah menjadi bagian persiapan UN.  Aku berharap pelajaran Bahasa Indonesia tetap menjadi pelajaran yang mereka sukai, walau telah menjadi murid SMP dan UN yang berlalu.

            Way Jepara, 27 Maret 2011
                         

            

Senin, 08 Desember 2014

5 Tips Mengajarkan Menulis Untuk Anak SD

Peserta Ekskul Jurnalistik SDIT Baitul Muslim



Ini pengalamanku saat menjadi guru ekskul jurnalistik. Waktu itu aku masih mengajar di SDIT Baitul Muslim Lampung Timur. Kelompok jurnalistik belajar menulis puisi dan cerita anak atau cerpen anak. 

Sebelum belajar biasanya kami berdoa dulu, lalu games, bernyanyi atau lainnya agar suasana tidak kaku. 

Lalu, anak-anak mengeluarkan buku catatan eksul mereka dan kami mulai belajar menulis. Bagaimana memulainya?

Cara 1

Ajak anak-anak menulis dengan memulai tulisan diawali dengan nama panggilan.
Contoh : Aisyah namaku. Aku siswa kelas 2 SDIT Baitul Muslim. Aku suka makan sate ayam.......

Cara 2
Ajak anak-anak memulai menulis dari rasa buah-buahan. Minta anak-anak membawa buah yang disukainya atau guru yang menyiapkan. Satu persatu merasakan buah tersebut dan menceritakan rasanya.
Contoh : Aku suka makan buah jeruk. Rasanya manis. Buah jeruk ada juga yang rasanya asam. Aku juga suka jus jeruk.

Cara 3
Ajak anak-anak memulai menulis dari pengalaman. Bisa cerita pengalaman selama liburan, pengalaman hari ini atau pengalaman selama ekskul.
Contoh : Hari ini aku hampir saja telat ke sekolah. Gara-gara aku terlambat bangun.


Cara 4
Ajak anak-anak memulai menulis dengan menonton film. Tayangkan film kartun atau apa saja film yang baik untuk anak-anak (usahakan filmnya singkat) atau potongan film. Lalu ajak anak-anak menceritakan film dari versi mereka.

Cara 5
Ajak anak-anak jalan-jalan ke lingkungan sekolah. Usai jalan-jalan dan mengamati lingkungan sekolah, anak-anak dapat menuliskan apa yang menarik yang mereka temui.


Sebenarnya masih banyak cara lain, tapi coba deh 5 tips di atas semoga ekskul jurnalistiknya semakin menarik. Selamat mencoba.

Minggu, 24 Oktober 2010

Sertifikasi Guru dan Cerpen Anak

Saya adalah salah seorang penikmat cerita anak yang ada di setiap Minggu di Koran kesayangan kita, Lampung Post. Sejak Tahun 2006 saya rajin mengamati cerita anak yang ditampil. Tak jarang saya kliping untuk menjadi bahan bacaan. Menariknya, sejak sertifikasi guru Tahun 2007 mulai digulirkan, cerpen anak yang ditampilkan mulai beragam temanya juga para penulisnya. Yakni, sudah mulai banyak dari para pendidik. Baik dari kalangan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),SD, SMP maupun SMA.

Menulis cerita anak sebenarnya tidaklah susah. Apalagi para guru yang setiap hari bertemu dengan muridnya. Kejadian di sekitar kelas, sekolah ataupun pergaulan anak dapat menjadi tema cerpen yang menarik. Apalagi sejak adanya sertifikasi, poin menulis cukup tinggi di portofolio. Walaupun itu belum menjadi poin tertinggi kelulusan, tapi cukup mendongkrak nilai portofolio, karena nilai setiap karya tulis (tulisan) yang dipublikasikan cukup besar sebagai karya pengembangan profesi.

Sayangnya, masih banyak guru yang bingung untuk memulai menulis. Contoh saja dalam mengisi rapor. Ada bebarapa guru yang masih bertanya,”Aduh bangaimana ya menuliskan komentarnya?” saat ada kolom komentar guru tentang kepribadian anak. Menulis bukanlah kegiatan asing bagi guru. Setiap hari tentu guru ikut menulis, minimal membuat Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau dokumentasi tentang kepribadian anak didiknya (terutama menjadiwali kelas).

Suatu hari saya pernah ditanya oleh seorang guru SMA bagaimana cara saya mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak didik saya agar suka menulis. Menurut saya, anak didik kita akan mencontoh gurunya yang suka menulis. Jadi, anak-anak akan terpacu semangatnya jika melihat gurunya juga suka menulis. Apalagi karya gurunya pernah terbit di media massa. Menulis tidaklah terlalu susah, tapi juga bukan pekerjaan mudah! Menulis adalah sebuah keterampilan. Belajar menulis sama seperti kita belajar menjahit, berenang, mengendarai sepeda atau jenis keterampilan lainnya. Mula-mula akan tersa berat dan banyak rintangannya. Namun, semakin sering berlatih, maka dengan mudah kita akan menguasainya.

Ada beberapa tips menulis cerita anak yang saya dapat dari berbagai penulis anak yang pernah saya baca dan saya ikuti. Pertama : Utamakan cerita-cerita yang memberikan penghargaan bukan hukuman. Contohnya Si Ani lupa membuat PR, lalu dihukum berdiri di depan kelas oleh gurunya. Ini kan kisah sudah tidak zaman lagi. Kedua: Pilihlah bahasa yang pendek dan mudah dimengerti anak-anak. Jangan lupa setting (tempat) kejadian yang mudah dikenal anak-anak. Ketiga : kirimlah, jangan tunda esok lagi!

Untuk memulai agar anak-anak didik mencintai pelajaran Bahasa Indonesia, terutama mengarang, awali pelajaran dengan permainan kosa kata, padanan kata atau tebak kata. Selain itu bisa mengajak anak-anak untuk mendengarkan dongeng atau cerita rakyat tanpa buku atau teks. Jadi guru total memerankan tokoh yang ada di depan kelas. Anggaplah kelas menjadi panggung dan guru adalah bintangnya. Dapat juga ajak murid berjalan-jalan di sekitar sekolah dan beri kesempatan untuk mengamati daerah sekitar lalu beri tugas membuat sebuah puisi dari hasilpengamatan mereka, tentunya setelah diajarkan teori membuat puisi. Saya berharap pelajaran Bahasa Indonesia menjadi salah satu pelajaran pavorit murid-murid saya, mengingat Bahasa Indonesia menjadi momok ketika UN, terkadang ironis sekali, pelajaran ini dianggap sepele dan nilainya terkadang anjlok. Nah, semoga para guru Bahasa Indonesia dapat berbenah dan teruslah belajar menulis!


Sri Rahayu, S.Hut

Guru SDIT Baitul Muslim Way Jepara Lampung Timur
dan Ketua FLP Cabang Lampung Timur